Baccarat Website_Weide Sports_Playing real money baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0

BBaccarat platformaccarat platformkBaccarat platformalaBaccarat platformu kita pernah nonton sinetron, kita akan menemui tokoh antagonis yang sering tersenyum jahat dan merasa puas ketika berhasil menjahati si tokoh protagonis. Faktanya, orang yang merasa senang melihat kesusahan orang lain dan sebaliknya benar-benar ada di dunia. Energi mereka berasal dari kepuasan melihat penderitaan orang lain di sekelilingnya. Biasanya orang seperti ini hobi mengeluh tentang banyak hal. Ia tidak akan bisa tersenyum tulus ketika orang-orang di sekelilingnya tampak bahagia, apalagi jika itu adalah orang yang ia sentimentali, karenanya, ia akan mencoba menjatuhkan orang tersebut lewat gosip dan fitnah agar yang digosipi dijauhi oleh orang-orang yang terpengaruh oleh fitnah tersebut. Sebenarnya, kita harus merasa kasihan  dengan orang seperti ini. Mereka menjalani hidup dengan bergantung pada kesengsaraan orang lain sebagai sumber energi jiwa. Jadi, apa kamu mau mengorbankan kebahagianmu demi kebahagiaan orang semacam ini?

Untuk menghindari kata gosip yang konotasinya negatif, backstabber biasanya akan menggunakan kata andalan 'fakta' agar semakin banyak orang terpengaruh berita yang tidak benar. Meskipun begitu, ketika ia tidak bisa menunjukkan bukti yang nyata dari kata-katanya, klaim fakta tersebut tetaplah gosip. Inilah alasan mengapa isi berita di dalam koran harus memuat fakta yang bisa dibuktikan, seperti kutipan wawancara, foto dokumentasi, maupun nama narasumber. Jadi, selama si backstabber tidak bisa membuktikan kebenaran dari omongan buruknya tentang kamu, anggap angin lalu saja, ya?

Sebagai makhluk sosial, kita memang tidak bisa hidup sendiri. Kita butuh orang lain dalam hidup kita; pacar, guru, tetangga, bahkan teman dan sahabat. Dengan ini diharapkan hidup kita dapat lebih dinamis dan atraktif. Namun, ikatan sosial ini tidak selamanya menuai hasil positif. Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Kita tentu tidak asing dengan istilah “backstabber”, atau “si munafik” dan “si muka dua” yang identik dengan aktivitas seputar gosip, tuduhan miring, bahkan fitnah yang dilakukan seseorang dengan tujuan menjatuhkan diri kita di hadapan orang lain. Ya, disadari atau tidak, orang-orang seperti ini akan selalu ada di lingkungan kita, tersenyum seperti biasa saat berinteraksi dengan kita, namun diam-diam menyebarkan bisanya kepada orang lain, menggosipkan hal yang tidak benar tentang kita di balik punggung kita. Memang ini hal yang menyebalkan (bahkan bagi sebagian orang amat sangat memurkakan), apalagi ketika kita akhirnya tahu kelakuan si backstabber ini. Tapi, sebenarnya kita tidak perlu membuang-buang energi dengan bereaksi marah, sedih, maupun kecewa berlebihan terhadap kelakuannya, bahkan mungkin kamu hanya harus tersenyum menghadapinya. Kenapa? Simak ya…

Salah kaprah dalam hidup: jika ingin hidup kita bahagia, maka kita juga harus membuat orang lain bahagia. Padahal, kenyataan jauh lebih kejam daripada cerita di film-film atau novel-novel. Tidak semua orang dibesarkan dengan sudut pandang, nilai, dan pemikiran yang sama dengan kita. Perbedaan pandangan maupun nilai adalah hal yang lumrah, namun inilah yang membuat kita tidak akan bisa membahagiakan semua orang. Sebaik apapun tindakan yang kamu lakukan, akan selalu ada orang yang menyinyirimu. Setulus apapun perbuatanmu, akan selalu ada orang yang berprasangka buruk tentangmu. Mencoba membahagiakan semua orang adalah pekerjaan yang melelahkan dan tidak ada habisnya, karena ekspektasi masing-masing individu berbeda. Yang bisa kamu lakukan adalah tetap jadi dirimu yang terbaik, lakukan sesuatu secara total dan bersungguh-sungguh. Dan ingat, kamu hanya perlu membahagiakan orang-orang yang sungguh-sungguh peduli dan mencintaimu.

Satu yang pasti, jaga diri kita sendiri dari aktivitas gosip, fitnah dan sejenisnya ya. Karena rasanya ketika digosipkan itu menyakitkan.

Jadi bahan gunjingan dan fitnah memang menyakitkan. Selain membuat martabat seseorang jatuh di mata orang lain, stigma jelek akan melekat pada diri seseorang akibat penilaian orang lain yang tak lagi objektif karena gosip. Namun, satu hal yang pasti, ada dua situasi ketika kamu digunjingkan orang lain. Pertama, kamu memang melakukan hal yang buruk, namun orang tidak berani menegurmu langsung, dan yang kedua, kamu berada di tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan orang yang menggosipkanmu. Pada situasi pertama, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, intropeksi diri adalah solusi. Namun, situasi kedua membuat kita seharusnya bangga. Ketika kita lebih sukses, lebih baik, dan lebih berprestasi daripada orang lain, akan selalu ada orang yang iri terhadap pencapaianmu, dan berusaha menarikmu turun ke level mereka. Jika ini yang terjadi, tulikan telingamu darinya dan bungkam mulut para backstabber itu dengan prestasi dan kualitas dirimu yang makin melejit. Lama-lama, orang akan tahu siapa yang pantas dipercaya dan siapa yang tidak. :)

Orang-orang yang menggosipkanmu kepada orang lain cenderung melakukannya karena rasa sentimen yang tidak objektif. Mereka cenderung lebih mengutamakan bagian emosional dibanding logika. Inilah mengapa, gosip adalah hal yang tidak bisa dipercaya 100%. Subjektivitas yang berdasar pada rasa sentimen ini biasanya berasal dari rasa ketidaksukaannya terhadap sikap maupun ucapanmu yang tidak sesuai dengan nilainya, tidak peduli apakah sikap atau ucapanmu itu adalah suatu kebenaran yang hanya berani dilakukan oleh segelintir orang. Contohnya, ketika kamu menolak memberikan contekan ujian saat si backstabber meminta. Tentu si backstabber ini akan marah terhadap sikapmu, dan rasa marahnya ini menuntunnya untuk menjelek-jelekkanmu kepada orang lain yang dianggapnya memiliki pemikiran yang sama. Ini sebenarnya membuktikan bahwa kemampuan untuk mengendalikan emosi si backsbatter sangat lemah, kan?

Pepatah di atas memang paling pas untuk menggambarkan para backstabber ini. Sebagai manusia kita seharusnya sadar bahwa kita memiliki kelebihan dan kekurangan yang merupakan anugerah dari Tuhan. Tidak selamanya kita selalu berbuat baik, ada kalanya kita melakukan kesalahan-kesalahan dalam hidup. Namun, bagi para backstabber, kesalahan yang kita lakukan adalah peluang baginya untuk menjatuhkan diri kita. Kekeliruan yang sebenarnya wajar dilakukan seorang manusia  dijadikan amunisi untuk menjatuhkan kita lewat omongan-omongan buruknya. Padahal, mungkin saja ia pernah melakukan kekeliruan yang sama, namun lagaknya seperti orang yang paling bersih dari khilaf. Bahkan, mungkin saja ia punya kekurangan yang sama bahkan mungkin lebih parah dibandingkan orang yang dibicarakannya. Ckckck... Bukankah orang seperti ini menandakan bahwa ia jarang mengintropeksi diri, sehingga tidak mengenal dirinya sendiri? Masih mau kesal karena kelakuan orang yang bahkan tidak mengenal dirinya secara baik?

Memang tidak enak rasanya ketika tahu ada seorang teman yang membicarakan hal buruk tentang kita di belakang. Berbagai perasaan kesal, marah, ketakutan akan dijauhi, dikucilkan, dipandang sebelah mata, dan sejenisnya oleh orang lain akan langsung menghantui pikiran kita. Tapi, apakah dengan merasa insecure seperti itu masalah dapat selesai? Energi negatif seperti itu hanya membuat otak dan fisik menjadi lelah, dan yang terburuk, tidak akan ada solusi yang bisa dilahirkan. Hal wajib yang harus segera dilakukan saat berada di situasi seperti ini adalah intropeksi. Ya, mulailah bertanya pada dirimu sendiri, apakah gosip yang dibicarakan para backstabber tentang kamu memang benar? Jawab pertanyaan itu dengan sejujur-jujurnya. Jika iya, ada baiknya kamu mulai memperbaiki kesalahan dan bertekad untuk jadi lebih baik lagi. Jika tidak, silakan tertawa dan kembali lagi ke poin pertama, ya.